Alasan Kenapa Jangan Mimilih Menjadi Kuli Apalagi Menjadi TKI

cara menjadi tki jepang bidang industri
© opteck

Pekerja atau bahasa kerenya mungkin karyawan, atau mungkin bahasa yang lainnya buruh. Ada juga yang mengatakan “kuli”, “Ah saya cuma seorang kuli” itu mungkin salah satu kalimat yang sering diucapkan oleh seorang buruh. Pada kenyataannya sekarang banyak orang merasa senang menjadi karyawan, pakaian rapi memakai jas. Di masyarakat kita ini masih menganut kebanggaan tersendiri menjadi karyawan atau kuli.

Seorang pria jika hendak melamar wanita biasanya ditanya “saudara kerja dimana?” dengan bangganya berkata “saya karyawan di sebuah perusahaan swasta di…”. Apakah ini yang menjadikan bangsa kita mempunyai mental kuli.

Kenapa kita tidak berusaha menjadi majikan, menjadi orang yang lebih mempunyai kualitas, kekuasaan dan kekuatan. Bekerja di perusahaan asing bangganya bukan main, menjadi kulinya bangsa asing kok bangga sih. Ini indonesia, bangsa kita sendiri, kok malam jadi kuli di bangsa sendiri. sementara orang asing menjadi majikan ditanah air tercinta ini.

Bekerja diluar negeri..

tki yang di siksa
© Tempo  Meriance Kabu, 32 tahun, pembantu rumah tangga yang bekerja di Malaysia, mengalami penyiksaan berat.

Bekerja di luar negeri menjadi asisten rumah tangga atau menjadi karyawan restoran. Duh.. Kalau kita melihat penderitaan mereka yang kadang tak pulang, kadang disiksa.. sungguh menderitanya saudara-saudara kita itu.

nasib menjadi tki
© sindonews

Banyak sekali kasus dari TKI yang sangat memprihatinkan, bukan satu atau dua kasus, tapiratusan bahkan ribuan kasus TKI yang sangat memprihatinkan. Itupun yang ter-ekspos, bagaimana yang tidak ter-ekspos samasekali. Banyak sekali. TKI di jepang, singapura, arab saudi, taiwan yang mengalami masalah yang sama.

Di era modern seperti ini, dibutuhkan generasi-generasi yang mempunyai mental pemimpin, bukan lagi generasi yang mempunyai mental kuli yang hanya bisa bekerja keras secara fisik tanpa memberi kesempatan sebuah pemikiran kreativitas untuk bekerja. Banyak jalan untuk bisa menghasilkan uang banyak dinegeri kita sendiri jika kita mempunyai pola pikir seorang pemimpin.

Banyak orang yang menjadi TKI selama bertahun-tahun dan pulang, tapi tidak memiliki kualitas diri. Apa yang didapatkan? ya..hanya uang selama bekerja di luar negeri yang dikumpulkan. Mungkin untuk membeli tanah dan lain-lain. Tapi apa setelah itu, mereka pulang tanpa mempunyai keahlian untuk dapat bersaing di negeri sendiri. Berbeda jika diluar negeri bekerja diperusahaan yang besar dengan tingkat pendidikan yang mumpuni. Saat mereka pulang, mereka akan membuat sebuah perusahaan. contohnya seperti pendiri gojek atau pun grabike.

Jika kamu berfikir ingin menjadi TKI, pikirkan baik-baik. Kamu hanya akan mendapatkan uang yang nilainya tak cukup jika dibandingkan dengan kerja keras di negeri sendiri. Janganlah berfikir sempit, mencari uang dinegeri orang demi keluarga dirumah. Itu adalah alibi dari orang-orang yang tidak bisa berfikir kreatif apalagi kritis.

Apa bangganya bekerja diluar negeri hanya menjadi seorang pramusaji atau asisten rumah tangga. Apa yang kamu dapatkan? hanya uang untuk keluarga dirumah. Ingat hidup itu tak sesempit itu menyikapinya. Lima tahun atau bahkan lebih kamu bekerja diluar negeri hanya untuj uang yang nilainya sebenarnya bisa didapatkan dengan bekerja dinegeri sendiri dengan bekerja keras. Setelah pulang masih tetap tidak mempunyai kualitas diri.

Mari berfikir lebih terbuka, mari action dan berkarya dinegeri sendiri. Jangan mengikuti keinginan yang hanya membuat kita akan terjatuh dimasa depan. Berfikirlah cerdas dalam memutuskan, jangan sampai kamu menyesal dimasa depan karena tidak mempunyai kualitas diri. Tidak perlu dibanggakan mempunyai segepok uang dari hasil menguli diluar negeri.

Himbauan ini sudah menjadi sebuah prioritas Presiden Joko Widodo dengan mengedepankan industri kreatif indonesia untuk bersaing dengan dunia global. Dari sini seharusnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Beliau sangat prihatin dengan kondisi generasi muda indonesia yang memilik menjadi TKI diluar negeri.

Dikutip dari Al-Ihsan Media Tama, Penulis Ichsanudin
Control/Editing: Media Grafika
ISBN: 978-979-25-0604-4


BERIKAN KOMENTAR