Trend Bunuh Diri di Jepang Bagai Epidemi, Apakah ini Termasuk Adaptasi dari Harakiri?

Youkoso! selamat datang! yups Jepang adalah sebuah negara penuh dengan inovasi dan menginspirasi bangsa lain, dikenal dengan budaya kerja keras, gemar membaca, dan pantang menyerah, serta Gunung Fujiyama yang indah, itulah Jepang. Namun, sungguh ironi, dibalik kemajuan Jepang ternyata terdapat sisi gelap yang memprihatinkan.

Bunuh diri, merupakan fenomena sosial yang timbul di Jepang, dimana pada tahun 2003, 2005 dan 2012, Jepang merupakan negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Setelah tahun 2012 memang terdapat penurunan angka bunuh diri tetapi bunuh diri tetap saja menjadi trend dikalangan masyarakat Jepang, bahkan pada tahun 2015, 70 orang per hari melakukan bunuh diri, angka bunuh diri ini lebih tinggi dari negara-negara maju lainnya, bahkan 3 kali lebih tinggi daripada Inggris.

Lantas, bagaimana negara maju seperti Jepang dapat memiliki fenomena sosial seperti ini ?

Sebagian besar motif bunuh diri di Jepang didasari karena rasa malu yang sudah menjadi budaya masyarakat Jepang. Harakiri, adalah bunuh diri dengan menusukan pisau ke perut yang dilakukan oleh para Samurai pada zaman dahulu, bunuh diri dianggap lebih terhormat daripada mati ditangan musuh.

Ketika kini sudah memasuki zaman modern ternyata budaya malu ini masih melekat erat dengan masyarakat Jepang. Sering diberitakan seorang ayah yang bunuh diri karena anaknya terlibat kasus kriminal, disamping malu, hal tersebut juga sebagai wujud tanggung jawab karena telah gagal dalam mendidik anaknya. Bukan hanya itu saja, para petinggi sebuah Perusahaan melakukan bunuh diri apabila Perusahaan yang dipimpinnya mengalami kegagalan, bunuh diri jauh lebih terhormat bagi mereka.

Bahkan para pelajar yang gagal dalam meraih prestasi akademik, lebih baik bunuh diri dari pada melanjutkan hidupnya, juga politikus lebih memilih bunuh diri ketika gagal menjalankan tugasnya, seperti menteri pertanian Jepang Toshikatsu Matsuoka yang bunuh diri pada 28 Mei 2007 karena merasa malu atas kasus skandal politik dan kontrak kerja bermasalah.

Selain didasari oleh budaya malu yang merupakan adaptasi dari budaya Harakiri, kebanyakan masyarakat bunuh diri karena masalah keuangan, mereka melakukan tindakan bunuh diri agar mendapatkan asuransi untuk membayar hutang mereka, sungguh ironi hutang dibayar dengan nyawa!

Lebih memprihatinkan lagi, trend bunuh diri di jepang ini dijadikan peluang bisnis bagi sebagian kalangan terutama dibidang jasa, mulai dari menyediakan jasa pengiriman jenazah, menyediakan jasa pengurusan pemakaman, upacara kematian hingga pembuatan peti jenazah dsb. Trend bunuh diri ini semakin menyebar bagaikan epidemi di berbagai kalangan di Jepang, bahkan yang sedang trend lagi adalah bunuh diri secara bersamaan.

Terdapat sebuah kasus dimana beberapa remaja Jepang bunuh diri usai melakukan kesepakatan bunuh diri melalui chatting dan saling berkirim e-mail, disamping itu ternyata terdapat fakta bahwa internet menjadi stimulus bagi masyarakat untuk bunuh diri, terdapat kasus sembilan orang bunuh diri secara bersamaan setelah berkenalan diinternet dan menggunakan situs khusus untuk merencanakan kematian mereka.

Bahkan pada November 2010 aksi bunuh diri seorang pria di Jepang disiarkan secara live di internet, pria ini bunuh diri setelah memposting keluhan mengenai pekerjaanya dan ia menyiarkan foto-foto mengenai dirinya, kemudian setelah itu banyak pesan yang masuk dan mendorongnya untuk bunuh diri, dan keesokan harinya munculah siaran langsung di Ustream mengenai proses bunuh diri pria tersebut.

Pada kasus lain seorang anak 14 tahun bunuh diri menggunakan gas beracun, setelah dapat dengan mudah mengetahui cara meracik gas beracun dari sebuah website Jepang. Peran televisi yang ikut andil dalam menyiarkan bunuh diri menggunakan gas beracun, juga merupakan stimulus untuk masyarakat yang mengalami tekanan dan depresi untuk mengakhiri hidupnya dengan cara ini, karena dipandang lebih mudah untuk menghilangkan nyawa sendiri tanpa menderita. Apabila trend bunuh diri ini terus dibiarkan maka mentalitas masyarakat Jepang akan semakin rusak.

Melihat trend ini semakin menyebar dengan mudahnya disertai berbagai rasionalisasi atas alasan bunuh diri, lantas apakah yang dilakukan Jepang menghadapi trend ini ?

Pada tahun 2006, pemerintah Jepang memang telah membentuk UU yang khusus mengatur bunuh diri tetapi masih belum disertai dengan langkah kongkrit. Hal ini ditunjukkan dari angka bunuh diri yang semakin meningkat.

Kemudian pada tahun 2012, pemerintah Jepang bersama dengan berbagai lembaga meluncurkan program kampanye pencegahan bunuh diri, yang dinamakan GKB47, melalui program ini diharapkan setiap warga Jepang dapat membantu untuk mengantisipasi bunuh diri dengan cara jika memiliki teman, keluarga, yang mengalami depresi dan kesulitan hidup, serta sudah menunjukkan potensi untuk bunuh diri maka masyarakat dapat membantu melalui konsultasi dan pendampingan terhadap orang tersebut.

Facebook juga saat ini mengambil peran untuk mencegah terjadinya bunuh diri bagi penggunanya di Jepang, dimana terdapat sebuah sistem yang apabila seorang pembaca postingan mencurigai pemilik posting akan melakukan bunuh diri, maka pembaca dapat menekan simbol v disudut kiri atas sehingga sistem akan berjalan.

Perdana menteri Naoto kan pada 2010 mengatakan bahwa Jepang perlu mengurangi angka bunuh diri dengan mengajak masyarakat Jepang untuk mengurangi ketidak bahagiaan dan lebih memaknai hidup.

Maka, apakah angka bunuh diri di Jepang akan turun, serta trend bunuh diri dapat teratasi? atau malah sebaliknya, trend ini semakin meningkat? Kita lihat perkembangan dari angka bunuh diri di Jepang, dan semoga kita termasuk individu yang memaknai hidup.

Original post by Diah Pitaloka


BERIKAN KOMENTAR