3 Mitos Tentang Minuman Alkohol

Ada banyak mitos tentang alkohol yang pada akhirnya membuat orang yang meminumnya menjadi ketagihan. Sempat alami hal itu, Annie Grace membuat buku berjudul Naked Mind, yang menolong beberapa alcoholic berhenti minum alkohol. Apa mitos alkohol?

Saya Butuh Alkohol Supaya Bisa Berteman

Saat ngumpul dengan beberapa orang yang terlatih minum alkohol, Kamu akan terasa tidak gaul bila tidak ikut minum. Cara terbaik untuk mengatasi kondisi ini ialah melalui pengalaman. Pertama, Kamu harus tahu jika Kamu dapat bergaul dengan siapapun meski tanpa minuman di tangan Kamu. Mungkin awalannya akan sedikit canggung, tetapi makin lama kecemasan Kamu akan hilang seutuhnya.

Alkohol Penting Buat Kehidupan Sosial

Sebetulnya, bukan minuman yang membuat aktivitas menyenangkan, tetapi karena Kamu menikmatinya bersama dengan teman dan sambil melakukan kegiatan yang disenangi. Jika Kamu berhenti percaya jika Kamu butuh minum alkohol untuk bersenang-senang, karena itu keinginan untuk minum akan hilang. Setelah betul-betul berhenti, maka Kamu baru mengerti jika alkohol sebetulnya dapat menghambat kesenangan.

Alkohol Membuat Saya Bahagia

Tidak dapat disangkal, budaya Barat membuat anggapan jika alkohol membuat orang bahagia. Dengan teori, bila alkohol membuat Kamu bahagia, setiap kali minum semestinya Kamu akan diliputi kebahagiaan. Tetapi, sebetulnya dampak alkohol malah mematikan semua akal sehat. Bila Kamu mati perasaan, lalu bagaimana dapat merasakan kebahagiaan?

Orang yang tengah minum alkohol mungkin tampak bahagia, tetapi pada saat bertepatan mereka tidak bisa nikmati situasi, percakapan, dan waktu yang dihabiskan dengan temannya. Bila sudah begini, dapatkah Kamu menyebut jika alkohol membuat bahagia?


BERIKAN KOMENTAR